Tingalan Jumenengan Mangkunegara X menandai peringatan tahunan kenaikan tahta adipati di Pura Mangkunegaran, Solo. Acara ini memadukan ritual adat Jawa dengan penampilan tarian sakral, seperti Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Ribuan orang menyaksikan prosesi ini pada 27 Januari 2026, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Anda bisa merasakan nuansa spiritual yang kuat melalui elemen-elemen budaya yang dijaga ketat.
Tradisi ini tidak hanya menghormati leluhur, tapi juga memperkuat identitas masyarakat Jawa. Pengunjung sering terpesona oleh kesakralan acara, yang mencakup doa bersama dan alunan gamelan. Tingalan Jumenengan Mangkunegara X menjadi momen refleksi atas kepemimpinan modern di tengah warisan keraton. Acara tahun ini menyoroti visi Mangkunegaran yang selaras dengan zaman, sambil menjaga nilai-nilai tradisional. Jika Anda mencari pengalaman budaya autentik, inilah kesempatan untuk memahami akar sejarah Solo secara mendalam.
Sejarah Mangkunegaran: Fondasi Keraton yang Tangguh
Mangkunegaran berdiri sebagai kadipaten otonom di Jawa Tengah sejak 1757. Raden Mas Said mendirikannya setelah Perjanjian Salatiga, yang membagi wilayah Mataram. Ia naik tahta sebagai KGPAA Mangkunegara I, dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa karena perjuangannya melawan penjajah. Wilayahnya mencakup area luas seperti Kedu dan Gunung Kidul, lengkap dengan pasukan independen.
Pendiri ini membangun fondasi kuat melalui diplomasi cerdas. Ia menandatangani kesepakatan dengan VOC, Susuhunan Pakubuwana III, dan Sultan Hamengkubuwana I. Hasilnya, Mangkunegaran menjadi pusat kekuasaan yang mandiri. Bangunan Pura Mangkunegaran mencerminkan arsitektur Jawa klasik, dengan Pendapa Ageng sebagai pusat kegiatan. Tempat ini menyimpan pusaka berharga, termasuk gamelan kuno.
Selain itu, Mangkunegaran memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Pada 1945, KGPAA Mangkunegara VIII bergabung dengan NKRI pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Revolusi sosial di Surakarta mengubah statusnya, tapi keraton tetap eksis sebagai penjaga budaya. Kini, ia fokus pada pelestarian tradisi di tengah modernisasi.
Perkembangan Sepanjang Zaman
Mangkunegaran berkembang melalui sepuluh adipati. Mangkunegara II memperluas pengaruh ekonomi melalui perkebunan tebu. Ia membangun sistem irigasi yang maju untuk zamannya. Kemudian, Mangkunegara IV memperkenalkan reformasi administratif, termasuk pendidikan modern bagi abdi dalem.
Pada abad ke-20, Mangkunegara VII mendukung pergerakan nasionalis. Ia membiayai pendidikan pemuda Jawa di Belanda. Mangkunegara VIII menghadapi tantangan pasca-kemerdekaan, tapi berhasil menjaga integritas keraton. Transisi ke Mangkunegara IX membawa fokus pada seni, seperti musik dan tari.
Era Mangkunegara X melanjutkan warisan ini dengan pendekatan kontemporer. Ia mengintegrasikan teknologi untuk promosi budaya, seperti festival jazz di Mangkunegaran. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi keraton terhadap perubahan sosial.
Profil KGPAA Mangkunegara X: Pemimpin Muda yang Visioner
KGPAA Mangkunegara X lahir pada 29 Maret 1997 di Solo. Nama lahirnya Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo. Ia merupakan putra bungsu dari Mangkunegara IX dan GKP Mangkunegara IX. Latar belakang keluarganya kaya akan sejarah militer dan kerajaan.
Ayahnya memimpin Mangkunegaran hingga 2021. Ibunya berasal dari keluarga jenderal TNI. Saudara-saudaranya termasuk Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo. Dari ibu tiri Sukmawati Soekarnoputri, ia punya kakak seperti Gusti Pangeran Harya Paundrakarna Jiwo Suryonegoro.
Mangkunegara X awalnya beragama Katolik, tapi memeluk Islam pada 2022. Perubahan ini mencerminkan komitmennya terhadap tradisi Jawa yang dominan Islam.
Pendidikan dan Karir Awal
Ia lulus S1 Hukum dari Universitas Indonesia pada 2019. Pendidikan ini membekalinya pengetahuan hukum untuk mengelola keraton. Sebelum naik tahta, ia aktif di acara Mangkunegaran, seperti memimpin kirab pusaka.
Pengalaman ini membentuk visinya. Ia mempromosikan budaya melalui event modern, seperti Mangkunegaran Jazz Festival 2019. Keterlibatannya menunjukkan pemahaman mendalam atas warisan keluarga.
Kenaikan Tahta dan Tanggung Jawab
Mangkunegara X naik tahta pada 12 Maret 2022, menggantikan ayahnya yang wafat. Penobatan di Pendapa Ageng dihadiri Presiden Joko Widodo dan raja-raja Mataram lainnya. Acara ini menandai era baru kepemimpinan.
Sebagai adipati ke-10, ia fokus pada pelestarian budaya. Ia menyampaikan sabda dalem di setiap Tingalan Jumenengan, menekankan harmoni antara tradisi dan inovasi. Tanggung jawabnya mencakup pengelolaan aset keraton dan promosi pariwisata budaya.
Apa Itu Tingalan Jumenengan Mangkunegara X?
Tingalan Jumenengan Mangkunegara X merupakan peringatan sakral kenaikan tahta. Kata “tingalan” berarti peringatan, sementara “jumenengan” merujuk pada bertakhta. Acara ini digelar tahunan di Pura Mangkunegaran.
Tahun 2026 menandai peringatan ke-4, menunjukkan empat tahun kepemimpinan. Masyarakat Solo antusias menyambutnya, karena acara ini membuka akses ke ritual keraton. Tamu undangan termasuk pejabat tinggi, seperti Gibran Rakabuming Raka.
Acara ini memperkuat legitimasi adipati. Ia menjadi momen syukur atas berkah leluhur. Selain itu, ritual ini menjaga hubungan spiritual antara pemimpin dan rakyat.
Makna dan Tujuan Utama
Makna utamanya adalah refleksi kepemimpinan. Mangkunegara X menggunakan acara ini untuk menyampaikan visi tahunan. Tujuannya melestarikan budaya Jawa di tengah globalisasi.
Acara ini juga simbol persatuan. Ia mengumpulkan abdi dalem, tokoh spiritual, dan masyarakat. Doa bersama memperkuat nilai-nilai seperti gotong royong dan hormat leluhur.
Oleh karena itu, Tingalan Jumenengan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia mengajarkan generasi muda menghargai warisan.
Rangkaian Acara yang Sakral
Rangkaian dimulai dengan Lenggah Jumeneng, di mana Mangkunegara X duduk di singgasana. Dilanjutkan pembacaan Al-Fatihah untuk menghormati leluhur.
Kemudian, penampilan Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Setelah itu, Wilujengan Ageng dengan doa dari tokoh spiritual. Acara diakhiri Sabda Dalem, pidato visi Mangkunegara X.
Seluruh proses diiringi gamelan Kyai Kanyu Mesem. Tamu dilarang merekam tarian untuk menjaga kesakralan.
Tarian Sakral Bedhaya Anglir Mendhung: Pusaka Mangkunegaran
Tari Bedhaya Anglir Mendhung menjadi highlight Tingalan Jumenengan Mangkunegara X. Tarian ini hanya dipentaskan di acara penting keraton. Tujuh penari gadis membawakannya dengan gerakan halus.
Gerakan tarian menggambarkan harmoni alam dan perjuangan manusia. Iringan gamelan menciptakan suasana mistis. Penonton merasakan energi spiritual yang kuat.
Tarian ini wajib hadir di setiap Jumenengan. Ia melambangkan kontinuitas warisan Mangkunegara I.
Sejarah Tarian yang Legendaris
Tarian ini lahir dari perjuangan Mangkunegara I melawan penjajah. Nama “Anglir Mendhung” berarti seperti awan mendung, simbol keteguhan.
Mangkunegara I menciptakannya sebagai bentuk syukur kemenangan. Sejak itu, tarian menjadi pusaka, dijaga oleh generasi selanjutnya.
Pada era modern, Mangkunegara X terus memeliharanya. Tarian ini mencerminkan nilai keberanian dan spiritualitas Jawa.
Persiapan dan Penampilan Penari
Penari menjalani tirakat ketat sebelum tampil. Mereka puasa, meditasi, dan ziarah ke makam leluhur seperti Astana Mangadeg.
Pada acara, penari muncul dari Paringgitan setelah Al-Fatihah. Gerakan mereka sinkron dengan gendhing gamelan. Durasi tarian sekitar 30 menit, penuh makna simbolis.
Persiapan ini memastikan kesakralan. Penari memakai busana tradisional, menambah keanggunan.
Signifikansi dalam Acara Tingalan Jumenengan
Tarian ini memperkuat legitimasi Mangkunegara X. Ia menghubungkan pemimpin sekarang dengan pendiri keraton.
Dalam konteks budaya, tarian mengajarkan nilai perjuangan. Penonton belajar menghargai sejarah melalui seni. Signifikansinya melampaui hiburan, menjadi ritual spiritual.
Pelestarian Budaya di Era Modern: Peran Mangkunegaran
Mangkunegaran aktif melestarikan budaya Jawa hari ini. Mereka mengadakan festival dan workshop tari. Pengunjung bisa belajar gamelan atau seni ukir.
Mangkunegara X memanfaatkan media sosial untuk promosi. Ia mengajak generasi muda terlibat dalam acara seperti Tingalan Jumenengan.
Selain itu, keraton berkolaborasi dengan pemerintah. Program ini menjaga artefak bersejarah tetap relevan.
Peran Saat Ini dalam Masyarakat
Mangkunegaran berfungsi sebagai pusat edukasi. Mereka buka tur museum, menampilkan pusaka kuno. Anak muda Solo sering ikut kelas tari.
Peran ini memperkuat identitas lokal. Masyarakat merasa bangga atas warisan mereka. Mangkunegara X mendorong inklusivitas, mengundang wisatawan asing.
Dampak Positif pada Komunitas
Pelestarian ini menciptakan lapangan kerja. Seniman lokal mendapat panggung di acara keraton. Dampaknya, ekonomi budaya Solo berkembang.
Komunitas merasakan manfaat spiritual. Acara seperti Jumenengan mempererat ikatan sosial. Generasi baru belajar nilai-nilai luhur dari leluhur.
Pengalaman Mengikuti Tingalan Jumenengan: Tips untuk Pengunjung
Anda bisa hadir di Pura Mangkunegaran saat acara. Datang pagi untuk dapat tempat bagus. Pakai pakaian sopan, seperti batik.
Saksikan royal defile prajurit dulu. Kemudian, nikmati tarian sakral. Jangan lupa ikuti doa bersama untuk pengalaman lengkap.
Setelah acara, jelajahi museum keraton. Anda akan temukan artefak menarik. Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam tentang budaya Jawa.
Tingalan Jumenengan Mangkunegara X menyatukan tradisi dan modernitas. Acara ini menghormati sejarah sambil menyongsong masa depan. Anda bisa ikut serta untuk merasakan kekayaan budaya Solo. Kunjungi Pura Mangkunegaran dan dukung pelestarian warisan ini.



